Search
Close this search box.

Cornerstone School

Junior High School

Berbicara tentang pendidikan atau pengajaran, tentu juga harus mengerti tentang bahan dan kurikulum yang dipakai dalam belajar; termasuk juga dalam pengajaran Alkitab yang dianut oleh orang Yahudi. Pengajaran anak-anak Yahudi mulai dari usia dini yang

mendapat pendidikan langsung oleh orang tua mereka di rumah, tentang tatakrama, dan iman kepada Allah, beserta ritual keagamaan Israel.

Umur 5 tahun; anak-anak mulai diberi pelajaran dasar membaca Taurat. Pada umur ini anak-anak mulai membaca dan menulis, terutama membaca dan menghafalkan Taurat.

Umur 10 tahun; mulai dengan mitswa (pengajaran); pada tataran ini anak-anak sudah diajar tentang makna dan arti dari hukum Taurat, bukan lagi hanya menghafal, tetapi sudah tahu maknanya.

Umur 12-13 tahun; menjalani sebagai bar-mitswa, (menjalankan peraturan atau hukum Yahudi. Mereka sudah dianggap mumpuni dalam hal hukum taurat dan melaksanakannya, sehingga anak-anak di taraf ini disebut juga anak syariat atau anak Torah (The son of law).

Ada bukti bahwa pelajaran menghafal Taurat ini merupakan dasar keimanan anak-anak Yahudi yang akhirnya anak-anak Yahudi sangat tahu identitasnya, keyakinannya dan sangat militan dengan imannya kepada Allah (Yahwe). Bagaimana dengan orang percaya saat ini? Apakah orang tua dan guru-guru agama baik di sekolah umum maupun di Gereja mengajar anak-anak akan pentingnya menghafal firman Tuhan?

Pendidikan Taurat Yahudi bisa terlaksana dengan baik karena adanya komunitas (jemaat) yang beriman teguh. Pendidikan itu dilaksanakan di Sinagoge, sebagai tempat berkumpul, belajar agama dan beribadah, karena mereka mau mengajar kepada anak-anak agar kelak menjadi dewasa dalam segala aspek kehidupan dan menjadi bagian dari umat di Sinaoge. Ini sangat penting bagi kita untuk membawa anak-anak ke rumah Tuhan (Gereja sekarang) agar anak-anak tumbuh dewasa dalam segala aspek kehidupan termasuk imannya sehingga akan menjadi bagian dan meneruskan komunitas orang percaya dalam gereja.

Sesungguhnya antara orangtua di rumah, guru di sekolah umum dan guru Gereja Anak (Children Church) di Gereja, dapat duduk bersama dalam komunitas pengajaran yang saling bergandengtangan dalam keberhasilan pengajaran kepada anak-anak, sebagai generasi penerus. Ada empat pelajaran utama di Sinagoge, yaitu:

Syema Yisrael artinya: “Dengarlah hai orang Israel,” yang merupakan kredo atau pengakuan iman dan pengucapan syukur yang dibaca tiap hari pada waktu pagi dan malam dalam ibadah di sinagoge.

“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa. Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada nak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau  mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu. (Ulangan 6:4-9)”

Dengarlah, hai orang Israel; adalah bagian yang sebut sebagai Syema atau Shema (ibrani: Shama=mendengar). Bagian ini sangat di kenal oleh orang Yahudi pada zaman Yesus karena diucapkan setiap hari oleh orang Yahudi yang saleh dan secara tetap di ibadah Sinagoge. Shema ini merupakan pernyataan terbaik tentang kodrat monotheisme Allah; pernyataan ini diikuti dengan perintah ganda kepada bangsa Israel; Untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan, dan untuk mengajarkan iman mereka dengan tekun kepada anak- anak mereka.

Syemone Esre adalah doa yang terdiri dari 18 pengucapan, yang diucapkan setiap hari; pagi, sore dan malam dalam ibadah di Sinagoge. Doa ini mengndung ucapan syukur dan puji- pujian terhadap Allah Abraham, Ishak dan Yakub, serta doa akan pemulihan Yerusalem dan Tahta Daud. Sampai sekarang ini menjadi bagian penting dalam doa bagi orang Yahudi.

Tehillah adalah pembacaan Taurat dengan di lagukan atau dilantunkan; seperti orang Islam membaca Al’Quran (tahlil). Pembcaan Taurat menduduki posoisi penting, karena Taurat adalah bagian Kitab Suci yang sentral bagi orang Yahudi. Iman dan kehidupan orang Yahudi seluruhnya didasarkan atas Taurat. Pengajaran dengan cara dibacakan dan dijelaskan dalam ibadah di Sinagoge, dan ini merupakan tradisi paling tua dalam kehidupan orang Yahudi.

Anak-anak Yahudi diajar untuk memelihara hari raya dan peringatan hari besar yang lain; ada beberapa hari raya penting yang selalu menjadi bagian perayaan kehidupan orang Yahudi, yaitu:Sabath (Keluaran 23; Ulangan 5:2); Hari Raya Tujuh Minggu (Keluaran 34:22; Ulangan 16:10) ; Hari raya Roti Tak Beragi (Keluaran 23:15; 34:18; Mat.26:17) ; Hari Raya Pondok Daun (Imamat 23:34; Ul.16:13; Yohanes 7:2) ; Hari raya Pentakosta (Kisah Rasul .2:1;20:16; 1 Korintus 16:8) ; Hari Raya Pentabisan bait Allah/ Hanukah (Yohanes 10:22) ; Hari Raya Pengumpulan Hasil (Keluaran 23:16; 34:22) ; Hari raya Pendamaian/Yon Kippur (Imamat 23:26; 35:9) ; Hari Raya Purim (Kitab Ester) ; Hari raya Paskah (Keluaran 12:11; Imamat 23:5; Mat.26:2).

Dalam tradisi Israel kuno, kita bisa melihat bagaimana orang-orang Israel diperintahkan dan dibagi-bagi oleh Daud (I Tawarikh 25) di bawah ayah mereka anak-anak Israel didik dan dilatih melaksanakan tugas pelayanan di Bait Allah. Ada indikasi bahwa anak-anak Israel didik oleh ayahnya di rumah mereka masing-masing.

Di Israel segala sesuatu harus saling membantu dan bekerjasama untuk mendidik anak-anak dan orang dewasa agar menjadi anggota-anggota persekutuan agama itu, yang insaf akan panggilannya dan dengan segenap hatinya ingin mengabdi kepada Tuhan dalam segala gerak-gerik hidup mereka. Untuk itu juga dipergunakan masa-masa raya yang

memperingakan kaum Israel akan peristiwa-peristiwa yang besar yang dialami nenek moyang mereka zaman dulu, misalnya perayaan pesta Paskah. Berhubung dengan hari-hari raya itu bapa-bapa menceritakan kepada anak-anaknya tentang segala pimpinan dan berkat Tuhan pada masa lampau, supaya menjadi pelajaran dan penghiburan bagi merka sekalian pada masa kini.

Pengajaran atau bimbingan dalam rumah pengajaran (beth-ha-midrasy) erat kaitanya dengan rumah ibadat (Sinagoge) orang Yahudi. Di sisni anak-anak duduk di kaki guru-guru Torah dan menerima pengajaran. Dalam kenyataannya tidak semua anak-anak Yahudi mendapat kesempatan atau bisa mengikuti jenjang beth-ha-midrash; kebanyakan dari anak-anak Yahudi hanya dapat mengikuti pengajaran dalam pembacaan Torah di rumah ibadah (Sinagoge) seminggu sekali pada hari Sabath.

Tidak diketahui dengan pasti kapan pertama kalinya sekolah-sekolah Sinagoge didirikan; ada pendapat itu sejak pada masa pembuangan di Babel, saat orang Israel atau Yahudi tidak bisa datang ke Bait Allah, mereka berkumpul dan berdoa di Sinagoge. Kapanpun sekolah ini dimulai, akhirnya sampai sekarang menjadi bagian penting dari pendidikan orang Yahudi. Terlebih Sinagoge itu menjadi ikon Yudaisme.

Selama masa pembuangan ke Babel, kaum Yahudi itu makin lama makin sadar lagi akan amanat dan panggilannya. Para pembicara mereka banyak mencurahkan perhatian kepada kitab-kitab suci bangsanya. Dibangunlah rumah-rumah sembahyang dan sekolah-sekolah agama, tempat diajarkannya kepada jemaat Yahudi itu segala tradisi agama yang telah diserahkan nenek moyangnya berabad-abad lamanya. Dan sekembalinya kaum yahudi itu ke tanah airnya, maka pembacaan taurat mulai memegang peranan yang amat penting di pusat hidup keagamaan mereka. Ilmu ketuhanan bertambah-tambah diutamakan; banyak sarjana Yahudi yang menyelidiki dan menafsirkan kitab-kitab suci dengan teliti. Sekolah- sekolah dan mazhab rabbi yang masyur itu mulai muncul, berkembang dan berkuasa.

Dalam ruang kelas itu terdapat sebuah podium kecil yang tinggi letaknya tempat guru (rabi) duduk bersilang kaki. Di depan guru terdapat sebuah rak pendek dengan gulungan- gulungan naskah yang berisi bagian-bagian pilihan dari Perjanjian Lama. Buku-buku pelajaran tidak ada; murid-murid duduk di lantai dekat kaki guru tersebut. Kelas-kelas tidak digolongkan menurut usia; semua murid belajar bersama-sama dalam ruangan yang sama.

Dalam praktek di kelas, guru akan menyalin sebuah ayat untuk dibaca keras-keras oleh para siswa yang lebih kecil sampai mereka menguasai ayat tersebut; sementara itu guru membantu anak-anak yang lebih tua untuk membaca satu perikop dari Kitab Imamat. Bagi kita mungkin situasi kelas dan kebisingannya akan mengganggu, tetapi tidak untuk mereka.

Butuh konsentrasi tinggi dan fokus yang jelas akan tugas pembelajaran masing-masing anak untuk bisa menyerap pembelajaran dalam suasana hiruk pikuk kebersamaan ini; malah ini akan menjadi kebersamaan yang saling menolong, misalnya ada yang membaca dan melantunkan Taurat tidak tepat, maka yang lain atau murid yang lebih besar akan menolong membetulkan; dan kebersamaan komunitas ini justru semakin memperkuat rasa kebersamaan dan loyalitas sebagai satu bangsa, satu agama dan kepercayaan.

Pada level Junior High School, kami mengadopsi sistem pendidikan Alkitabiah Yahudi tersebut, semua proses yang telah dilewati oleh students sampai Elementary akan juga

diulang pada level ini. Hanya pada level ini, students bukan sekedar menghafal, tetapi mereka mulai diminta untuk mengintrepretasikan aya-ayat Alkitab.

Pada grade seventh (7), students akan mendapatkan pelajaran Bible dengan berfokus kepada perjalanan Israel dari Mesir sampai Bukit Sion, hal ini diajarkan setiap hari dengan tujuan, students mulai mengerti arah visi hidup mereka. Amsal 29:18, “Tanpa visi {visi yang berkelanjutan} umat binasa” (NKJV).

Students Junior High School akan benar-benar dipersiapkan sejak dini agar mereka memiliki visi kekekalan, takut akan Tuhan dan berjalan dalam kekudusan hidup serta melatih dan mempersiapkan mereka untuk membangun personal vision, sehingga mereka mulai bermimpi besar dengan memberikan pelatihan kepemimpinan dasar kepada mereka, melatih students untuk menjadi “petarung” di masa depan, membangun peta jalan sehingga students paham apa yang akan terjadi, dan siap untuk menjadi “the mighty man of God,” belajar dari history maker yang terdapat Alkitab, sehingga students akan siap bersaing di masa depan dengan kecerdasan baru melalui serangakaian pelatihan.

Stdents Junior High dilatih untuk menghafal dan mengucapkan Mazmur 119:1-176, sebab Mazmur ini adalah Mazmur yang ditulis oleh Nabi Ezra sang Ahli kitab dan merupakan salah satu pasal yang wajib dihafalkan oleh semua students Yahudi di sekolah-sekolah mereka.

Tema utama dari Mazmur yang paling panjang ini adalah Firman Tuhan. Pasal Mazmur ini ditulis dengan gaya alfabetis akrostik, dalam bahasaaslinya, yaitu Ibrani, setiap delapan ayat di dalam dua puluh dua bait yang ada dimulai dengan huruf yang sama dari alfabeth itu.

Mazmur ini disusun dalam dua puluh dua bait, sesuai dengan banyaknya huruf di dalam alfabeth Ibrani. Masing-masing bait terbentuk dari delapan ayat, dimana setiap ayat terdiri atas dua bahagian saja, yang masing-masing diawali dengan huruf yang sama di dalam alfabeth tersebut.

Dengan mengucapkan pasal Mazmur ini, students sementara dilatih untuk mencitai Firman Tuhan dalam hidup mereka, sehingga ketika mereka sampai di grade 7 atau 8 (usia 13 tahun), mereka diharapkan mengambil keputusan personal untuk bertobat, menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan pergi secara personal ke Baptisan Selam.

“Kami mau semua siswa kami menjadi seperti Kristus sampai tinggal dalam kekekalan di Bukit Sion Rohani.”

SPIRITUAL ZION HILL –
RECLAIMING OUR INHERITANCE

ABOUT ROI PROJECT

Click Button for More Information About This Project!

Search
Close this search box.

DONASI

Fill out the form below, and we will be in touch shortly.